Kisah Salim, Penyuluh Agama Cilacap yang Berdakwah ke Napiter di Lapas Nusakambangan
Cilacap, Bimas Islam -- Peran penyuluh agama dalam upaya menjaga ekosistem keagamaan yang damai sangat vital. Seperti yang dilakukan Salim, penyuluh agama Islam asal KUA Cilacap Utara yang berdakwah ke narapidana terorisme (Napiter) di Lapas Nusakambangan.

Salim mengungkapkan, berdakwah ke napiter di Lapas Nusakambangan tidaklah mudah, banyak tantangan yang harus dihadapi. Menurut Salim, tantangan dakwah ke Lapas Nusakambangan terbagi menjadi dua, yaitu fisik dan psikis.
"Pulau Nusakambangan itu luas. Lapasnya juga tidak mudah dijangkau karena berada jauh di dalam pulau. Perlu perjuangan untuk sampai ke Lapas. Kira-kira jaraknya dari pusat kota itu 35 kilometer," ujar Salim membuka kisahnya di Cilacap, Rabu (16/11).
Salim menjelaskan, dari Pulau Jawa ke Pulau Nusakambangan belum ada jembatan penghubung. Karenanya, kata dia, masyarakat yang hendak ke Nusakambangan mesti menaiki kapal besar atau perahu-perahu milik warga di pesisir pantai. "Termasuk para penyuluh agama, kalau ketinggalan kapal besar, kita hanya bisa mencari perahu layar," katanya.
Selain tantangan yang menguras fisik, lanjut dia, ada pula tantangan psikis. Salim menjelaskan, tidak semua napiter di Lapas Nusakambangan bisa ditemui. Klasifikasinya merah, kuning, dan hijau.
"Merah biasanya napiter yang menjadi pusat atau penyebar ideologinya. Kalau kuning dan hijau biasanya adalah pendukungnya. Yang berada di garis merah ini jangankan berdiskusi, menjawab salam atau senyum saja mereka tidak akan melakukannya kepada kita," aku Salim.
"Sementara yang berada di garis kuning dan hijau itu mereka bisa diajak untuk berdiskusi. Alhamdulillah banyak yang sudah kembali ke NKRI," tambahnya.
Dalam berdakwah kepada napiter, kata Salim, tidak bisa menggunakan dalil saja. Menurutnya, pemahaman antara penyuluh agama dengan para napiter sudah berbeda. "Kalau pakai dalil, pasti dibantah. Mereka tidak akan menerima pendapat kita. Biasanya kita beradu logika dengan mereka. Harus siap mental," katanya.
Menurut Salim, Lapas Nusakambangan berbeda dengan lapas-lapas lain. Salah satunya, kata dia, Lapas Nusakambangan sudah dilengkapi dengan Security Maximum System (SMS) bagi napi dengan kasus berat seperti terorisme, sehingga keamanan penyuluh agama semakin terjamin.
"Alhamdulillah sekarang sudah ada SMS atau Security Maximum System untuk napi kelas berat, khususnya terpidana terorisme. Jadi ketika saya hendak berdiskusi atau berdakwah dengan mereka, saya merasa aman," jelas pria yang telah berdakwah di Lapas Nusakambangan sejak 2013 ini.
Salim mengatakan, dakwah penyuluh agama di Lapas Nusakambangan merupakan hasil kerja sama antara pihak Lapas dengan Kankemenag Cilacap yang sudah terjalin lama. "Programnya dari kita, lalu pihak lapas yang menyediakan tempat dan keamanannya," pungkas Salim.
(Rendi)